Tradisi kawin culik langgengkan perkawinan anak

Lombok Timur – Pernikahan usia anak di bawah umur 19 tahun menjadi masalah besar di Indonesia. Pernikahan usia anak yang sudah diatur dalam Undang-Undang nomor 16 tahun 2019 adalah 19 tahun. Sementara ini, banyak sekali ditemukan anak-anak yang menikah di bawah usia tersebut.

Hal itu tidak luput dari perhatian pemerintah Kabupaten Lombok Timur, mengingat pernikahan usia anak dapat berisiko meningkatkan kasus stunting pada bayi baru lahir, angka kematian, angka kemiskinan, termasuk putus sekolah.

Terkait itu, digelar Rapat Koordinasi pencegahan Pernikahan Usia Anak dalam Upaya Penurunan Stunting dan Sukses Wajib Belajar 12 Tahun. Dalam kesempatan tersebut dilakukan pula Penandatangan Perjanjian Kerja Sama Bupati Lombok Timur dan Ketua Pengadilan Agama Selong Tentang Perlindungan Hukum terhadap Anak. Jum’at 11/11/2022.

Bupati Sukiman Azmy pada acara tersebut mengaku miris melihat kondisi saat ini. Ia menilai banyak pihak kurang menunjukkan kepeduliannya terhadap pencegahan Perkawinan usia anak tergolong masih membutuhkan pendidikan, “Semua acuh tak acuh untuk terlibat langsung terhadap pencegahan Perkawinan culik,” ungkapnya.

Karena itu Bupati meminta agar meningkatkan konsolidasi dan koordinasi. Hal tersebut disampaikan terkait target Perkawinan Usia Anak dan Stunting Nol (Pasno) 2023 mendatang. Diingatkannya pula pentingnya konsultasi untuk susksesnya Pasno.

Bupati mengapresiasi sinergi dan kolaborasi semua pihak, termasuk melalui kegiatan yang berlangsung di Rupatama 2 tersebut. Menurutnya, “Apa yang kita laksanakan pada hari ini merupakan lompatan yang kesekian. Bagaimana ikhtiar agar semua berkolaborasi, bersinergi, untuk melaksanakan hal-hal nyata,” kata Sukiman. Langkah ini diharapkan mengukuhkan kerjasama agar memperoleh hasil yang prima dan lebih baik.

Tradisi Sasak disebut Kawin culik merupakan tradisi lombok, Apabila telah di bawa cewek kawin culik kerumah keluarga lelaki, setelah itu akan ada pemberitahuan antar kadus masing-masing desa kemudian melakukan mufakat, kalau mufakat atau musyawarah telah disetujui oleh kedua belah pihak keluarga, maka terlaksana nikah atau nobat.

Kadus Suparlan selaku warga Sambelia juga menanggapi. Perkawinan culik di Lombok terkadang dibolehkan karena ada alasan tertentu, akan tetapi bagi sebagian warga menghindari perkawinan culik, namun ada alasan mengapa kawin culik dilakukan karena akibat dari tidak disetujui hubungan kedua belah pihak laki-laki dan perempuan dan kadang kecelakaan karena sama-sama mempertahankan rasa cinta satu sama lain.

Ini sangat memperihatinkan karena minimnya ajaran orang tua sehingga harus dinikahkan si anak karena hal ini sebetulnya berbahaya. Apalagi telah di jelaskan oleh Dr. Heron bahaya yang akan ditanggung di anak kalau melakukan kawin culik utamanya dibawah umur 19 tahun, sangat patal”Ucapnya.

Menurut dokter. Kandungan Dr. Heron , ketika belum matang, maka cukup bahaya dan fungsi reproduksinya akan terganggu seperti indung telur, rahim dan lainnya. “Jadi dianggap belum siap untuk menerima kehamilan. Kadang masih ada gangguan saat haid. Berdasarkan hasil penelitian, berhubungan seks pada usia anak-anak bisa berisiko kanker serviks. “Berhubungan seksual lebih dini angka risiko akan meningkat,” ujarnya.

Dari hasil survey membuktikan angka tertinggi kawin culik terbesar di Lombok Timur sehingga Pemerintah Daerah berupaya penuh untuk menanggulangi persoalan ini terutama rentan bagi kaum hawa yang masih menginjak umur di bawah 19 tahun.

Jika A membawa kawin culik si B 80% si B mau diajak kawin culik karena berpengaruh terhadap lingkungan pergaulan anak sehingga orang tua harus mengawasi Perkembangan anak. Apalagi masih membutuhkan perhatian orang tua, sehingga sangat berperan aktif orang tua yang memiliki pendidikan tinggi untuk mengurusi anak-anak nya. Kalau sudah kawin culik 100% anak tersebut tidak bisa diambil kalau diambil sama Artinya akan merusak mental anak tersebut,”Ucapnya.

Sampai 3 bulan kebanyakan cerai karena bisa dikatakan pola pikir anak masih pendek. Angka kawin cerai anak di Lombok timur terbilang tinggi, Faktor tersebut bisa mengakibatkan putusnya sekolah, terlantar, harus jadi TKI, ini hal yang memperihatinkan di Lotim. Kalau sudah cerai belum tentu mantan isteri atau anak di nafkahi kembali.

Bupati Lombok Timur H.Sukiman Azmi berpesan. “Peran orang tua sangat penting dan bermakna membimbing anaknya untuk terus sekolah, bagi ibu-ibu jangan takut anak tidak ada biaya zaman sekarang sudah banyak peluang beasiswa bagi anak yang kurang mampu hingga ke jenjang S3. Beasiswa Gubernur di buka mulai dari S1 jadi jangan takut untuk menyekolahkan anak-anaknya,”Terangnya..

Kepala Dinas P3AKB Lombok Timur Ahmad mengingatkan Nusa Tenggara Barat berada di rangking ke-7 dari 34 provinsi terkait angka pernikahan anak. Di Lombok Timur angkanya juga mengalami peningkatan. Karenanya ia berharap semua komponen dapat ikut bergerak mewujudkan Pernikahan Anak dan Stunting Nol (Pasno) tahun 2023. Diharapkannya pula adanya Perdes pencegahan stunting.

Pada kesempatan tersebut dilakukan pula Penandatanganan Komitmen bersama stakeholder terkait guna pencegahan pernikahan usia anak. Acara tersebut dihadiri pula Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) seperti LPA Lombok Timur, LBH APIK, LPSDM NTB, dan Institut KAPAL Perempuan.

Sekali lagi, kasus tersebut merupakan yang terlaporkan. Sedangkan yang terjadi di bawah tangan lainnya dipastikan lebih banyak. ’’Melihat rata-rata usianya, tentu tidak ada yang mendapat dispensasi. Semua selesai dengan proses agama,” jelasnya.

Artinya, mereka baru sebatas menikah secara agama. Sebab, secara negara, pernikahan hanya dilakukan dengan batas usia minimal 19 tahun.

Seperti yang telah diungkapkan oleh warga desa Sambelia yang pernah menikahkan anaknya, Haeruman mengatakan pemicu Perkawinan usia anak di bawah kelaziman itu bisa berakibat fatal termasuk KDRT karena minimnya pemahaman antara suami dan isteri atau bisa dikatakan menikah pada saat masih membutuhkan pendidikan sangat berdampak pada perceraian.

Kepala DP3AKB Lotim Asrul Sani membenarkan bahwa kasus yang terlaporkan hanya sebagian kecil dari kasus pernikahan anak yang terjadi di Lotim. Dia menuturkan, berdasar data angka kelahiran menurut umur yang dikeluarkan Dinas Kesehatan Lombok Timur pada 2019, terdapat 289 ibu melahirkan yang berusia di bawah 20 tahun.

Artinya, jumlah kasus pernikahan anak pada tahun itu mencapai ratusan. ’’Apalagi tahun ini. Jumlahnya bisa mencapai ratusan juga,” kata Asrul.

Adat kawin culik dalam Suku Sasak memang menjadi salah satu faktor yang membuat pernikahan dini tak bisa dicegah. Karena secara psikologis, perempuan yang sudah dibawa lari oleh laki-laki ke rumahnya akan menjadi aib tersendiri jika dipulangkan atau dibatalkan proses pernikahannya.

’’Jadi, rasanya sia-sia berbagai penyuluhan kepada siswa yang sudah kita lakukan selama ini,” terangnya.

Fasilitator Advokasi Buruh Migran Indonesia (ADBMI) Lotim Fauzan menerangkan, kasus buruh migran, perceraian, dan pernikahan dini merupakan satu mata rantai permasalahan sosial yang selama ini terjadi di Lotim. Dia menuturkan, sebagian besar anak yang melakukan pernikahan dini adalah keluarga pekerja migran Indonesia (PMI).

Terpisah, Deputi Bidang Tumbuh Kembang Anak Kemen PPPA Lenny N. Rosalin membeberkan bahwa ada peran strategis perempuan di tingkat desa. ”Kami yakin perempuan-perempuan champions (pegiat perempuan andalan, Red) di desa masing-masing bakal mampu bergerak untuk mencegah perkawinan anak,” ujarnya.

Lenny menyatakan, ada 22 provinsi yang angka pernikahan dininya di atas angka nasional. Itu menurut survei BPS 2019 terhadap perempuan usia 20 sampai 24 tahun yang sudah menikah pada usia di bawah 18 tahun.

Secara nasional, angka pernikahan dini mencapai 10,82 persen. Jawa Timur menjadi salah satu provinsi yang pernikahan dininya di atas angka nasional. Sementara itu, DKI Jakarta dan Jogjakarta menjadi provinsi terendah angka pernikahan usia anak.

Habibulloh, S.Pd selaku Pemerhati Anakj juga mengatakan, pada Pernikahan anak, dengan terbitnya undang-undang terbaru bahwa, pernikahan usia anak harus genap 19 tahun baru boleh menikah secara agama.

Kalau dalam Islam, jika seorang laki-laki dan wanita sudah balig, maka tidak ada masalah dia menikah sepanjang sama suka, tapi yang menjadi persoalan ketika berpatokan pada hukum Negara maka, syaratnya harus minimal 19 tahun, kalau kurang dari 19 tahun, harus melalui jalur pengadilan,”Tegasnya.

Ditambahkan, banyak faktor penyebab, bisa karena faktor Pendidikan, lingkungan keluarga dan juga faktor pergaulan. Kalau anak usia pelajar SMP, terjadi pernikahan dini biasanya kebanyakan karena faktor kecelakaan (kumpul kebo).

Untuk menanggulanginya perlu meningkatkan peran orang tua sebagai wadah anak berbagi, meningkatkan peran tokoh masyarakat dan tokoh Agama agar di Sosialisasikan, manfaat dan mudarat bagi perkembangan anak sesuai kasusnya.

Jikalau sudah terlanjur mau bagaimanapun harus di nikahkan, tetapi yang paling penting peran Keluarga, tokoh Masyarakat dan tokoh Agama untuk di sosialisasikan tentang mudaharat Pernikahan dini tersebut, ujarnya.

Ditambahkan, daerah yang sering terjadi perkawinan culik sebagian besar di Desa Sambelia, Kecamatan Sambelia, Kabupaten Lombok Timur, Provinsi Nusa Tenggara Barat.

Karena faktor orang tua berpendidikan rendah penyebab kurangnya perhatian orang tua kepada anak tersebut, faktor lingkungan, dikarenakan masyarakat menganggap perkawinan culik itu biasa dan bukan sebagai aib. Faktor pendidikan, rendahnya tingkat pendidikan anak tersebut.

Kendala yang di hadapi biasanya tidak mau di hadiri oleh pengurus KUA Kecamatan dan aparat Desa serta tidak mendapatkan buku nikah.

Habibulloh, S.Pd menanggapi bahwasanya, Pernikahan anak adalah pilihan, semua mempunyai risiko dan kesimpulannya, menurut agama. Pernikahan adalah Sunnah Rasulullah dan Allah SWT tidak menyukai orang yang hidup membujang padahal mampu untuk menikah. Pernikahan anak di bawah umur juga terjadi karena orang yang mau dinikahkan telah menjalin hubungan di luar nikah dan pegawai KUA terpaksa menikahkan, terangnya”.

Selain dilakukan oleh pemerintah, upaya pencegahan perkawinan anak juga dilakukan oleh PKBI NTB dan UNICEF melalui program Komunikasi Risiko dan Pelibatan Masyarakat dan Anak. Partisipasi yang dilakukan berupa kampanye stop perkawinan anak di 80 sekolah dan komunitas remaja atau forum anak dampingan program di pulau Sumbawa. Kegiatan tersebut dilakukan dengan menggandeng Bappeda, DP3A2KB, Dikbud dan Dinkes yang pada dasarnya merupakan bentuk dukungan terhadap program pemerintah yakni Kabupaten Layak Anak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *